Kesedihanku semakin dalam, perasaanku kini tak
kumengerti bagaimana sebaiknya keputusan terbaik yang harus kutentukan, ketika
ada dua pilihan yang sangat berat untukku memilih satu diantaranya.
Aku tahu ini semua
terjadi karena kesalahanku sendiri ketika ku mulai tak jujur kepada mereka, aku
memobohongi mereka demi mempertahankan kebahagiaanku atas kehadiran keduanya,
aku tahu aku sudah memiliki seseorang yang cukup sempurna menjadi teman
hidupku, seorang yang selalu mengerti dan sangat memahami keadaanku, seseorang yang
selalu menasehatiku.
Yah.. Itulah
sosok seorang Dion kekasihku, hanya saja dia tidak selalu berada disampingku,
dia jauh dan butuh waktu yang lama untuk bisa bertemu lagi dengannya karena
pekerjaannya di luar kota membatasi pertemuan kita. Dion selalu mengingatkanku
segenggam pesan darinya “Jangan pernah lelah menungguku, aku akan kembali
untukmu.” Meskipun itu selalu ku dengar hanya melalui telepon.
Disisi lain ada seseorang yang dekat denganku
seorang pria yang jutek tapi penyayang, dia terlihat hanya seperti teman biasa
untukku yang sudah aku anggap sebagai seorang kakak, namanya Wian. Dibalik
sikapnya yang sedikit cuek itu ternyata dia menyimpan perasaan kepadaku.
“Aku ingin
menjalani hubungan yang lebih serius denganmu, bukan hanya sekedar adik ataupun
kakak,”
“Jangan bencanda kak Wian, hal konyol seperti
ini takkan buatku tertipu,” balasku dengan tawa dan terlihat sedikit malu.
Aku pun belum percaya dengan apa yang ia katakana, selama ini Wian selalu bersamaku, dekat denganku
bahkan hampir setiap hari ku selalu bercanda bersamanya, aku sangat nyaman
berada disampingnya. Setelah cukup lama ku
selalu bersama Wian, ia pun menagih jawaban itu,
“Bagaimana? Maukah kamu
menjalalninya bersamaku?”
Yah Tuhan apa yang harus ku katakan , apakah
aku harus berbohong bahwa aku masih sendiri atau aku harus jujur bahwa saya
sudah memiliki kekasih
“Maaf aku rasa, aku
masih butuh waktu untuk memikirkan itu”
Aku juga mulai menyayangi Wian. Aku tak tahu harus bagaimana, aku merasa serba
salah. Aku mencoba meminta pendapat dari salah seorang sahabatku Wika.
“Wik.. menurutmu
siapa lebih pantas untukku?”
“Bagaimana perasaanmu terhadap Wian? Apakah kau
juga mencintainya?”
“Jujur aku menyayanginya dan belum bisa
ku pastikan apakah aku juga mencintainya!” jawabku kebingungan.
Sungguh ceroboh, sangat tidak konsisten.. Ku hanya bisa menyalahkan
diriku sendiri.
“Aaaahh perasaan apa ini Tuhaaann????”
“ Apakah perasaanmu terhadap mereka berdua sama beratnya?
Seimbang?”. Tanya wika
“Tentu tidak, bisa kupastikan 60% untuk
Dion dan 40% untuk Wian”.
Wian yang belum
mengetahui kehadiran Dion tentu dia
sangat sangat kecewa jika sudah mengetahuinya karena aku tidak jujur dari awal, aku menutupi hubunganku dengan
Dion karena aku tidak ingin Wian menjauh. Aku tahu caraku ini salah, namun kebagaiaanku ada pada mereka, mungkin kehadiran Wian menadakan bahwa Tuhan sedang
menguji kesetiaanku.
Rasanya ingin memiliki keduanya dan itu tidak akan
mungkin terjadi karena aku juga tak ingin mendua dan
nasib Dion? Aku tidak siap meninggalkannya karena sejauh ini hubungan kami
baik-baik saja, dia akan lebih sakit jika aku meninggalkannya dengan alasan
yang tak jelas. Semakin
berat rasanya menanggung semua kebohongan ini, aku harus berkata jujur kepada Dion bahwa aku
telah dekat dengan orang lain tanpa sepengetahuaannya
“Di.. maafkan aku
tak jujur padamu, sebenarnya ada orang ketiga diantara kita. Maafkan aku, tapi
sungguh aku benar-benar sayang padamu.” tangisanku melalui telepon
“Jika
engkau benar-benar menyayangiku, engkau takkan pernah ada waktu memikirkan orang
lain sekalipun aku berada di planet lain”.
“Aku tak tahu harus
bagaimana lagi, sungguh berat bagiku untuk memilih.”
“Jujur aku sangat kecewa dengan semua ini namun jika
memang engkau akan memilih dia yang bisa lebih menjagamu, aku ikhlas.”
“Aku memang bodoh, menyianyiakan orang sebaik kamu”
ucapku menyesal
“Jangan pernah engkau berpikir aku
melepasmu karena aku tak sayang padamu, tidak! Justru itu aku sangat menyayangimu, aku tak ingin memaksakan perasaanmu untukku jika memang
bahagiamu ada pada dirinya” tegas Dion kecewa. Akhirnya kami
memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini.
Hari demi hari
selalu kutunggu kabar dari Wian untuk menaghi kembali jawaban dariku namun sejak saat itu tak ada kabar darinya. Wian meghilang begitu saja dan Dion pun tak pernah ada kabar. Kembali
lagi aku terpuruk dalam kesedihan, aku meninggalkan Dion demi seorang Wian,
tapi kemana Wian pergi? dia tak pernah ada kabar lagi. Apakah ini buah dari
penyesalanku dulu telah menyianyiakan Dion, aku merasa telah kehilangan
keduanya.
Baik-buruknya
dari kisah ini semoga bisa menjadi pelajaran untuk para pembaca agar lebih bisa
menghargai orang lain.
Sekilas tentang penulis: Asnira adalah mahasiswa dari Universitas
Muhammadiyah Makassar