Coretan Pena

Sabtu, 24 Januari 2015

SESAL

            Kesedihanku semakin dalam, perasaanku kini tak kumengerti bagaimana sebaiknya keputusan terbaik yang harus kutentukan, ketika ada dua pilihan yang sangat berat untukku memilih satu diantaranya.
Aku tahu ini semua terjadi karena kesalahanku sendiri ketika ku mulai tak jujur kepada mereka, aku memobohongi mereka demi mempertahankan kebahagiaanku atas kehadiran keduanya, aku tahu aku sudah memiliki seseorang yang cukup sempurna menjadi teman hidupku, seorang yang selalu mengerti dan sangat memahami keadaanku, seseorang yang selalu menasehatiku.
Yah.. Itulah sosok seorang Dion kekasihku, hanya saja dia tidak selalu berada disampingku, dia jauh dan butuh waktu yang lama untuk bisa bertemu lagi dengannya karena pekerjaannya di luar kota membatasi pertemuan kita. Dion selalu mengingatkanku segenggam pesan darinya “Jangan pernah lelah menungguku, aku akan kembali untukmu.” Meskipun itu selalu ku dengar hanya melalui telepon.
Disisi lain ada seseorang yang dekat denganku seorang pria yang jutek tapi penyayang, dia terlihat hanya seperti teman biasa untukku yang sudah aku anggap sebagai seorang kakak, namanya Wian. Dibalik sikapnya yang sedikit cuek itu ternyata dia menyimpan perasaan kepadaku.


“Aku ingin menjalani hubungan yang lebih serius denganmu, bukan hanya sekedar adik ataupun kakak,”
 “Jangan bencanda kak Wian, hal konyol seperti ini takkan buatku tertipu,” balasku dengan tawa dan terlihat sedikit malu.
Aku pun belum percaya dengan apa yang ia katakana, selama ini Wian selalu bersamaku, dekat denganku bahkan hampir setiap hari ku selalu bercanda bersamanya, aku sangat nyaman berada disampingnya. Setelah cukup lama ku selalu bersama Wian, ia pun menagih jawaban itu,
“Bagaimana? Maukah kamu menjalalninya bersamaku?”
 Yah Tuhan apa yang harus ku katakan , apakah aku harus berbohong bahwa aku masih sendiri atau aku harus jujur bahwa saya sudah memiliki kekasih
“Maaf aku rasa, aku masih butuh waktu untuk memikirkan itu”
 Aku juga mulai menyayangi Wian. Aku tak tahu harus bagaimana, aku merasa serba salah. Aku mencoba meminta pendapat dari salah seorang sahabatku Wika.
“Wik.. menurutmu siapa lebih pantas untukku?”
“Bagaimana perasaanmu terhadap Wian? Apakah kau juga mencintainya?”
Jujur aku menyayanginya dan belum bisa ku pastikan apakah aku juga mencintainya!” jawabku kebingungan.
Sungguh ceroboh, sangat tidak konsisten.. Ku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri.
Aaaahh perasaan apa ini Tuhaaann????
 “ Apakah perasaanmu terhadap mereka berdua sama beratnya? Seimbang?”. Tanya wika
Tentu tidak, bisa kupastikan 60% untuk Dion dan 40% untuk Wian.
Wian yang belum mengetahui kehadiran Dion tentu dia sangat sangat kecewa jika sudah mengetahuinya karena aku tidak jujur dari awal, aku menutupi hubunganku dengan Dion karena aku tidak ingin Wian menjauh. Aku tahu caraku ini salah, namun kebagaiaanku ada pada mereka, mungkin kehadiran Wian menadakan bahwa Tuhan sedang menguji kesetiaanku.
            Rasanya ingin memiliki keduanya dan itu tidak akan mungkin terjadi karena aku juga tak ingin mendua dan nasib Dion? Aku tidak siap meninggalkannya karena sejauh ini hubungan kami baik-baik saja, dia akan lebih sakit jika aku meninggalkannya dengan alasan yang tak jelas. Semakin berat rasanya menanggung semua kebohongan ini, aku harus berkata jujur kepada Dion bahwa aku telah dekat dengan orang lain tanpa sepengetahuaannya
“Di.. maafkan aku tak jujur padamu, sebenarnya ada orang ketiga diantara kita. Maafkan aku, tapi sungguh aku benar-benar sayang padamu.” tangisanku melalui telepon
 “Jika engkau benar-benar menyayangiku, engkau takkan pernah ada waktu memikirkan orang lain sekalipun aku berada di planet lain”.
“Aku tak tahu harus bagaimana lagi, sungguh berat bagiku untuk memilih.”
            “Jujur aku sangat kecewa dengan semua ini namun jika memang engkau akan memilih dia yang bisa lebih menjagamu, aku ikhlas.”
            “Aku memang bodoh, menyianyiakan orang sebaik kamu” ucapku menyesal
“Jangan pernah engkau berpikir aku melepasmu karena aku tak sayang padamu, tidak! Justru itu aku sangat menyayangimu, aku tak ingin memaksakan perasaanmu untukku jika memang bahagiamu ada pada dirinya” tegas Dion kecewa. Akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini.
Hari demi hari selalu kutunggu kabar dari Wian untuk menaghi kembali jawaban dariku namun sejak saat itu tak ada kabar darinya. Wian meghilang begitu saja dan Dion pun tak pernah ada kabar. Kembali lagi aku terpuruk dalam kesedihan, aku meninggalkan Dion demi seorang Wian, tapi kemana Wian pergi? dia tak pernah ada kabar lagi. Apakah ini buah dari penyesalanku dulu telah menyianyiakan Dion, aku merasa telah kehilangan keduanya.

Baik-buruknya dari kisah ini semoga bisa menjadi pelajaran untuk para pembaca agar lebih bisa menghargai orang lain.

Sekilas tentang penulis: Asnira adalah mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Makassar



Tidak ada komentar:

Posting Komentar